Abu Syauqi lahir di Bandung pada 11 Februari 1968 dengan nama Deni Triesnahadi. Ia merupakan anak dari pasangan Enden Dewi dan Eddy Affandy. Bakatnya dalam mengembangkan usaha sudah terasah sejak masih remaja. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia mulai berdagang.
Ketika Abu mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), ayahnya wafat. Abu kemudian membiayai sekolahnya sendiri. Pada umur 25 tahun, ia memulai usaha transportasi. Abu memiliki delapan unit angkutan kota dan satu bus.
Abu juga
memiliki usaha di bidang peternakan yang kemudian menjadi sebuah perseroan
terbatas dengan nama PT Niaga Ummul Quro. Abu Syauqi menikah dengan Siti Sundari. Dari
pernikahannya itu, ia dikaruniai enam anak. Sejak anak
pertamanya Syauqi Mujahid lahir, nama Deni Triesnahadi tidak lagi dipakai.
Sejak itu, teman-temannya memanggil dengan nama Abu Syauqi.[1]
Abu Syauqi
tertarik mempelajari Islam secara mendalam dengan cara unik, berawal dari
Pengadilan Negeri Bandung. Ia bolos dari sekolahnya, SMP Negeri 13
Bandung karena tertarik menonton jalannya persidangan para aktivis Darul Islam pada
1980-an. Sejak saat itu, Abu tertarik untuk mempelajari agama Islam yang telah
dianutnya sejak lahir.
Abu Syauqi melanjutkan
pendidikannya di SMA Negeri 05 Bandung. Saat mengenyam pendidikan SMA, Abu
Syauqi menjadi remaja yang senang ke masjid dan aktif kegiatan keagamaan serta
rajin melakukan bakti sosial. Keinginan aktif dalam kegiatan bakti sosial
muncul dari dirinya sendiri dengan tekad membantu orang lain yang membutuhkan.
Pernah suatu ketika, Abu Syauqi dan anggota remaja masjid lainnya mengumpulkan pakaian dan makanan untuk dibagikan ke masyarakat miskin di Tegallega. Abu Syauqi dan teman-temannya kemudian,dimasukkan ke dalam penjara Garnisun dengan alasan “dilarang membagi-bagikan makanan di daerah miskin oleh masjid tanpa ada penjelasan”.
Saat itu, pemerintahan Orde Baru masih berkuasa, di mana segala
kegiatan serba diawasi. Pengalaman masa muda tersebut membuat Abu Syauqi sangat
peduli terhadap masyarakat sekitarnya dan berkeinginan mendirikan lembaga
sosial. Orangtua Abu juga berperan dalam tindakan Abu mengenai kepedulianya
terhadap kondisi sosial. Orangtua Abu mengajarkan agar peduli terhadap orang
lain.[2]
Setelah lulus SMA, Abu kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Imam Muhammad bin Saud atau
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta pada tahun 1988, Jakarta
tetapi tidak sampai lulus. Ia sempat pula mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Bekasi pada 1992, tetapi juga tidak sampai sarjana.
Abu juga pernah menjadi mahasiswa Universitas Islam Nusantara Bandung pada 1995, namun lagi-lagi tidak sampai lulus.[3] Meskipun tidak mendapat gelar sarjana, ia sukses dengan bisnis ternaknya dengan nama PT Niaga Ummul Quro, bisnis transportasi, dan berhasil mendirikan lembaga Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ) yang kini bertransformasi menjadi Rumah Zakat. Rumah Zakat sendiri sampai dengan 2017 telah memiliki 37 titik layanan di seluruh Indonesia.
[1]Irwan Andri Atmanto dan Mukhlison S. Widodo,“Menghimpun
Dana Untuk Kaum Papa”, Gatra 18 / XIII 21 Maret 2007.
[2]“Abu
Syauqi Dai Entrepreneur Sejati” (http://kabarindonesia.com, dikunjungi pada 11
Juni 2019).
[3]Atmanto dan Widodo,“Menghimpun
dana”.